BreakDance Indonesia

Breakdance Merajalela (Lagi)!

Tarian jalanan ini makin ramai saja peminatnya. Pensi jadi kurang afdol tanpa kehadiran breakers. Bahkan, iklan TV pun mulai menjadikan mereka sebagai Pemanis. Dahsyatnya, beberapa sekolah sudah membuat ekskul breakdance. Breakdance lagi naik daun, nih!

Memang bukan cuma dangdut yang lagi harum namanya. Selama beberapa tahun terakhir, kita bisa melihat berkembangnya kembali ’tarian kejang’ alias breakdance. Tarian yang dari tanah kelahirannya di Amerika Serikat itu lebih populer di kalangan anak jalanan ini, memang sempat jadi tren di kalangan anak muda Jakarta pada era 1980-an. Pada saat itu banyak bermunculan penari-penari jalanan di Jakarta beraksi dengan alas kardus bekas. Musik yang sering dipakai untuk breakdance dulu adalah Zoolook.

Scene breakdance di Indonesia dulu dan sekarang jelas beda jauh. Dulu, istilah B-Boys dan B-Girls (para penari breakdance) belum lagi muncul. Jurus-jurus tariannya pun boleh dibilang belum berkembang alias itu-itu lagi. Contohnya, gaya tangan patah-patah yang sering banget dipakai. Jurus yang disebut Up Rock itu memang lebih berkembang ketimbang ’gerakan bawah’ yang jelas punya tingkat kesulitan yang lebih tinggi.
Tapi sayang, belum lagi para penari jalanan ini mahir menari kejang, tren breakdance perlahan hilang. Masuk ke era 1980-an akhir, angkatan yang disebut Old Skool ini pun tinggal kenangan.

Sebenarnya sekitar pertengahan tahun 1990-an, tren breakdance sudah mulai kelihatan lagi. Ditandai dengan munculnya tim breakdance Midi Circus yang sering main di kawasan Senayan. Sampai era ini, perkembangan jurus-jurus tariannya sudah mulai pesat. Banyak gaya-gaya baru yang mereka tampilkan. Tentunya mereka banyak belajar dari majalah-majalah breakdance luar negeri. Tapi, lagi-lagi tren ini harus mundur seiring gempuran tren musik ska dan klasik disko yang mulai menjalar di kuping anak muda. Jadi, wajar saja kalau breakdance tidak dilirik lagi.

Tapi B-boyz yang masuk di gelombang kedua ini tidak kenal nyerah. Mereka masih sering berlatih walaupun dalam komunitas kecil. Untungnya, ada musik hip hop datang sebagai penyelamat. Di tengah gempuran musik ska, musik hip hop tetap punya pasar sendiri di Industri musik dunia. Tapi apa hubungannya? Ternyata tren breakdance gelombang kedua membuka pemikiran baru soal hip hop. Hip hop yang selama ini hanya dipandang sebagai musik, kenyataannya di tempat asalnya sudah dianggap sebagai sub kultur yang berisi empat unsur. Keempat unsur itu adalah MC atau Rapper, DJ, Breakdance itu sendiri dan Grafitti. Nah, begitu musik rap Indonesia menjamur di akhir 1990-an, breakdance mulai ikut muncul di tiap penampilannya. Ingat lagu Tididit-nya Sweet Martabak? Nah, disitu kan mulai ada B-Boyz beraksi di video klip Ferry cs itu.

Masuk tahun 2000, pemahaman itu makin kuat. Dan sekarang, para pelaku scene hip hop di Indonesia merasa bertanggung jawab untuk mengembalikan hip hop scene seperti di negara asalnya. Semua ini berkat media massa luar yang sudah membantu kami memahami apa arti hip hop itu sesungguhnya. Luas banget ternyata. Dan, breakdance masuk ke dalamnya. "Makanya kami yang dibilang sebagai gelombang ketiga ini mau membangun hip hop dari mula lagi", kata Indra Dagu, seorang B-Boy di Jakarta. Dia menamakan angkatannya sebagai New Skool (angkatan baru). Dan, sebagai salah satu unsur hip hop, pastinya tidak harus ada persaingan di tiap unsur. Seperti yang dibilang James, seorang B-Boyz dari Senayan Breakers. "Kami tidak merasa jadi main attraction. Soalnya setiap elemen punya porsinya masing-masing. Dan kami tidak pernah ngerasa dicuekin. Mereka udah tau kalau B-Boyz adalah bagian dari pertunjukkan", ujarnya mantap.

Persaingan komunitas Setelah scene-nya mulai naik, otomatis para B-Boy banyak yang membentuk komunitas sendiri. Sampai sekarang belum jelas apa yang menjadi dasar pembagian kelompok-kelompok itu. Mereka menyebutnya dengan istilah Crew. Setiap Crew biasanya berisi 5 sampai 30 orang. Mereka ini sebenarnya adalah para B-Boy yang kebetulan sering latihan bareng di satu tempat. Tapi pada perkembangannya, tim ini menjadi sebuah tim solid yang jadi bahan untuk mempertajam jurus. Setelah Midi Circus, kelompok pertama yang terbentuk adalah Senayan Breakers. Lucunya, tim ini terbentuk dari tongkrongan anak-anak in-line skate. Karena salah satu anggotanya ada yang sekolah di luar negri, pas pulang ke Jakarta dia membawa breakdance ke tongkrongan. "Nah, mulai dari situ kami semua latihan breakdance. Trus Senayan Breakers
terbentuk jadi kelompok B-boy pertama deh", ujar Yara, salah satu dedengkot Senayan Breakers.

Membuat komunitas, tanpa disadari mampu membuat sebuah persaingan yang sehat di antara para B-boy. Tentunya persaingan melakukan jurus yang asyik dong. "Soalnya, apa lagi yang diliat dari seorang B-boy kalau bukan jurus-jurus gerakannya? Gue rasa kalau kami tergabung dalam satu wadah tidak akan ada persaingan sehat. Kalau terpisah kan bisa ada timbul rasa ngiri ’wah kelompoknya bisa ngelakuin gerakan A, B atau C’. Nah akhirnya kami semua jadi termotivasi untuk bikin yang lebih hebat. Nah, yang kayak gini kan persaingan sehat namanya", kata Galih yang tergabung dalam Jakarta Breakin. Dari komunitas itu timbul juga keinginan untuk tampil. Soalnya percuma juga kalau cuma latihan tapi tidak pernah tampil di depan orang banyak. Mereka ternyata punya tujuan ’mulia’ selain menyalurkan hobinya. "Dari latihan bareng timbul keinginan buat tampil di suatu acara. Biar orang tau nama grup kita dan tau kalau Breakdance itu masih ada!" ujar Galih lagi. Uniknya, kadang-kadang mereka selalu menggelar acara Breakdance Battle yang merupakan acara iseng-iseng. Tujuannya cuma satu: yaitu ngeliat perkembangan gerakan-gerakan yang udah berhasil dikulik oleh masing-masing kelompok. Tidak ada juri, tidak ada hadiah. Yang ada hanya audience yang setia memberi semangat. "Penilaiannya, ya sama penonton. Kalau kita kurang, nanti penonton bilangin kita kurangnya di mana. Jadi yang kalah harus bener-bener sportif. Tidak ada yang marah!" ujar Galih lagi. Terus, di luar battle? Masih bersaing? "Tidak lah. Kami sih banyak yang bertemen deket. Gue juga suka nongkrong sama anak South Gank di Senayan. Pokoknya di luar battle kita boleh temen, tapi kalau lagi battle kita saingan banget. Kalau urusan sama duit, itu sih rejekinya masing-masing" ujarnya.

Berangkat dari komunitas, mereka pun satu persatu beralih profesi jadi model iklan. Contohnya Galih yang jadi bintang iklan MILO dan tim Jakarta Breakin’ yang barengan jadi model iklan Specs. "Pokoknya yang penting bikin breakdance eksis, kedua nyalurin hobi, terakhir baru kalau bisa dapet duit dari Breakdance ", Timpal Bo'im yang tergabung dalam South Gank. Gambaran di atas baru yang terjadi di Jakarta. Di kota lain seperti Bandung dan Surabaya juga punya komunitas breakdance seperti itu. Sebut saja Dawn Squad, Warner, dan Blue Sky dari Bandung dan urabaya Kejang dari kota Pahlawan. Seru kan?

Diambil dari Kompas, 12 September 2003